Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

[Book Review] Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Karya Eka Kurniawan

 Vulgar abis!

Itu kesan pertama ketika aku baca buku ini.


Karya pertama Eka Kurniawan yang aku baca adalah Cantik itu Luka, dan itu sudah bikin aku tercengang dengan kevulgarannya. Sekarang ketemu buku ini, Cantik itu Luka jadi nggak ada apa-apanya. Haha

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar tuntas lebih ekstrim. Mungkin karena itu buku ini diberi label 21+.

Baca juga: [Book Review] Corat-coret di Toilet Karya Eka Kurniawan

Sinopsis Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Bercerita tentang dua orang remaja yaitu Ajo Kawir dan si Tokek. Suatu hari si Tokek menemukan tontonan yang luar biasa, sehingga ia mengajak sahabatnya Ajo Kawir ikut serta.

Mereka mengintip Rona Merah, wanita gila yang sedang dipaksa berhubungan intim dengan dua orang polisi. Naas, saat mengintip mereka ketahuan. Si Tokek berhasil kabur namun Ajo Kawir tertangkap. Kemudian para polisi itu melucuti pakaian Ajo Kawir dan dipaksa untuk menggauli Rona Merah.

Mungkin saking takutnya, burung Ajo Kawir pun enggan berdiri. Sejak peristiwa itu hingga entah kapan. Burung Ajo Kawir tak mau bangun, bahkan setelah ia bertemu dengan Iteung, wanita yang dicintainya.

Baca juga: Lebih Senyap dari Bisikan Karya Andina Dwifatma

Review Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Karya Eka Kurniawan

Bisa dibilang buku ini bercerita tentang si Burung dan sepak terjang pemiliknya yaitu Ajo Kawir. Berbagai usaha telah Ajo Kawir lakukan untuk membuat burungnya kembali bangun, bahkan ia pernah menggosokkan ulekan cabai rawit agar si Burung kembali ngaceng. Nyatanya hal itu sia-sia belaka. Hal tersebut hanya kembali menyiksa pemiliknya.

Si Tokek juga dihinggapi rasa bersalah, karena secara tidak langsung, ia yang menyebabkan si burung tertidur panjang. Ia yang mengajak sahabatnya itu pergi ke rumah Rona Merah dan mengintipnya.

Ini bukan novel biasa, seperti novel Eka Kurniawan yang lain, selalu ada sindiran yang terkandung di sini, nggak hanya ceritanya yang absurd, setiap tokoknya yang juga unik. 

Cerita yang penuh filosofi dan akan melahirkan aliran filsafat yang mencengangkan.

Ajo Kawir: Burungku bilang aku tak boleh berkelahi
Mono Ompong: Kenapa kau selalu bertanya kepada burungmu untuk segala hal?
Ajo Kawir: Kehidupan manusia ini hanyalah impian kemaluan kita. Manusia hanya menjalaninya saja.

Si Tokek akan mengatakan, itu filsafat.

 Aku sangat menikmati saat membaca novel ini, seru, penuh tantangan dan cara berpikir Eka yang out of the box menjadikan rasa penasaran terus bertumbuh seiring terbukanya setiap halaman.

Sampulnya juga sangat menggambarkan isi novelnya, yaitu burung yang sedang mati, haha

Tapi ada tanda 21+ di belakang novel ini, jadi kalau kamu belum berusia 21 tahun ke atas jangan dibaca dulu ya. Karena isinya memang sevulgar itu.

Quotes Favorit

"Suatu ketika burungmu akan berdiri lagi, percaya saja. Lagipula kalau sekarang bisa berdiri, memangnya mau kamu pakai untuk siapa?" - Hal. 41

"Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala." - Hal. 126

Baca juga:  [Book Review] Maryam Karya Okky Madasari

Infomasi Buku

Judul Buku: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Editor: Mirna Yulistianti
Desain Sampul: Eka Kurniawan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-2470-8
Cetakan ketiga Desember 2015

7 komentar untuk "[Book Review] Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Karya Eka Kurniawan"

  1. Buku2 Eka Kurniawan memang gila 🤣🤣. Aku baca beberapa bukunya, walo vulgar tapi memang baguuus. Ada makna setidaknya.

    Nah yg dendam rindu harus dibayar tuntas, aku blm baca mba, tapi lagi nonton filmnya di Netflix. Belum selesai sih. Tapi kliatannya memang khas banget dengan karya2 Eka Kurniawan 😄

    BalasHapus
  2. Wahhh saya baca Cantik Itu Luka belum selesai-selesai. Pengen banget si baca yang ini juga, emang vulgar dan agak ngeri juga sih. Antimainstream ceritanya.

    BalasHapus
  3. wah ceritanya sangat vulgar sekali yach. Barangkali ini yang dicari orang jadi dibuatlah cerita dengan genre masa kini.

    BalasHapus
  4. aku belum pernah baca buku karya Eka Kurniawan ,
    membaca review diatas ternyata ceritanya cukup ektrim, dan kasihan juga dengan karakter si Ajo Kawir.

    ekstrim sih kisahnya

    BalasHapus
  5. Ilustrasi burung matinya aja udah sesuatu ya, hehe.
    Bagus ini ada tandanya bahwa ini buku cocoknya dibaca di atas usia 21

    BalasHapus
  6. Menarik ini bukunya, aku penasaran pengen baca juga buku ini mba.

    BalasHapus
  7. Aku belum baca bukunya, tapi penasaran pengin membaca setelah nonton filmnya ada karakter 'abstrak' Jelita yang diperankan oleh Ratu Felisha. Pengin tahu lebih lanjut, sebetulnya penggambaran karakter Jelita di bukunya seperti apa.

    BalasHapus